Senin, 25 November 2013

persaudaraan


©©Maafin aku kak, aku janji..©©
Awan hitam semakin menebal, mungkin sebentar lagi hujan lebat akan turun. Seira tampak gelisah di depan gerbang sekolah, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Seira mengambil handphone dari tasnya, dia mengetik SMS “cepetan jemput sei donk kak, udah mau ujan nie.. kalau masih ada matakuliah kakak izin aja deh ama dosennya..” wajahnya menggambarkan kejengkelan. Handphonenya bunyi ada panggilan masuk dari dani kakaknya.
“hallo.. cepetan donk kak, udah mau hujan tahu..!!”
“Seira sayang, adik kakak yg manis. kamu naik kendaraan umum aja ya, kakak tidak bisa jemput sayang..”
“what ?? aah.. pokoknya sei gak mau tahu, sei mau di jemput ama kakak. Titik..!!” seira mulai kesal.
“sei kakak lagi ngerjain tugas akhir, biar kakak bisa ikut sidang  biar cepet lulus. Maafin kakak ya.. kamu ngerti kan ??”
“gak tahu ah, pokoknya sei gak akan pulang kalau bukan kakak yg jemput”
“emang berani sendirian di sekolah ??” dani memancing seira.
“biarin aja kalo terjadi sesuatu ama sei, kakak harus bertanggung jawab.” Seira menutup telponnya.
Akhirnya dani mengalah, ia menuruti kemauan seira. Karena dani tahu seira anaknya manja dan nekad.
Seira sudah gelisah dan jemu menunggu, sudah 2 jam dani belum juga terlihat batang hidungnya. Seira terus mengerutu, sudah sepuluh SMS yang ia kirimkan untuk kakaknya tapi, tidak ada satupun yang di balas.
Tiba-tiba handphonnya berdering seira langsung menjawab panggilan masuk dari nomor dani.
“lama banget sih kak, sei udah kedinginan hujannya deras banget.” Seira langsung menyerobot.
“maaf ini dari rumah sakit dik, dik dani kecelakaan”
“hah.. kecelakaan ?? kakak jangan boong deh, bilang aja gak mau jemput sei.”
“ini serius dik, jika adik tidak percaya silahkan datang ke rumah sakit kasih bunda.”
Seira tak percaya kakaknya kecelakaan, tapi ia menjadi khawatir ini semua salahnya.
Kini ia tidak menggubris lagi air hujan yang begitu deras, ia segera menyetop sebuah mikrolet menuju rumah sakit.
                                                          ······
Seira basah kuyup, dia memasuki ruang ICU. Disana kakaknya terbaring, menurut dokter yang merawatnya dani koma.
“Dokter, selain saya apa sudah ada keluarga lain yg menjenguk ??”
“sudah dik tapi mereka pulang dulu, mungkin sebentar lagi mereka kembali.”
“jahat banget mereka” gerutu seira dalam hati.
Dokter tersebut berpamitan pada seira, dia akan memeriksa pasien lain.
Seira duduk disamping kakaknya, ia menangis menyesali keegoisannya.
“kak.. maafin sei, ini semua salah sei yg maksa kakak buat jemput sei. Sei nyesell banget.” Seira terisak, namun yg ditangisi tak bergeming.
“kak.. bangun donk kak, kakak gak bloeh koma.. sei janji akan berubah, gak akan egois dan manja lagi. Kak bangun donnkk..!!” seira menggenggam tangan kakaknya sangat kuat.
“beneran, janji nie ??” suara dani mengejutkan seira, dani bangun dan nyengir kuda.
“ikh.. kakak jahat, kakak pura-pura ya ??” seira memukul tangan kakaknya.
“aw sakit.. maafin kakak sei, tadi kakak emang jatuh dari motor. Tuh lihat kaki kakak lecet kan ??” dani memperlihatkan kakinya.
“tahu ah..” seira cemberut.
“eits jangan cemberut gitu donk, cantiknya ntar ilang.” Dani memeluk seira.
“terus kenapa musti pura-pura koma ?? ini tuh keterlaluan.”
“karena kakak pengen adik kakak yg manis ini berubah, menjadi dewasa dan gak keras kepala. Ini kakak lakukan karena sayang banget sama sei, untuk kebaikan sei.”
Dokter yg pura-pura merawat dani datang, ia tersenyum.
“dokter dibayar berapa sih sama kak dani ??” Tanya seira menggoda.
“tidak kok dik, kebetulan ruang ICU kosong. Ya sudah saya memperbolehkan dik dani untuk bermain drama.” Dokter itu tertawa.
“pada jahat deh, lihat nie sei basah kuyup gini. Hatccchiiii..”
Dani dan pak dokter hanya tersenyum.
“duh adik kakak jadi flu deh, nie kakak punya obatnya.” Dani memberikan cokelat pada seira dan langsung melahapnya.

»Selesai»

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan.
terimakasih.