KAMU, BUKAN WANITA HINA
Malam
itu Hadi pulang dari mengisi ceramah di acara tabligh akbar disalah satu
kelurahan, tepat di jalanan yang sepi dimana kendaraan sudah tidak lagi
berlalulalang, karena memang malam sudah sangat larut, jarum jam tangan Hadi
menunjukan angka 00:48. Hadi mengerem motornya tiba-tiba, karena didepannya ada
sosok perempuan yang berjalan dengan terseret-seret. Mungkin dia sedang dalam
pengaruh alkohol. Penampilannya sangat tidak layak, rambut acak-acakan,
pakaiannya sangat terbuka. Gadis itu berdiri ditengah jalan, dia mencegat Hadi.
dia minta tolong ingin di antar pulang.
“hei,
tolong anterin aku donk.. sialan nie om budi nurunin aku disini.” Kata gadis
itu sempoyongan.
“asstagfirullohaladzim..”
Hadi mengelus dada.
“oh kamu
ustad ya, gak peduli lah pokoknya anterin aku, ustad kan suka ceramah, hidup
tuh harus tolong menolong. Makannya buktikan ceramah kamu itu, jangan Cuma
ngomong doank”. Gayanya seperti seorang pendakwah. Hadi hanya beristigfar dalam
hati. “ya sudah, ayo naik”.
Perasaan
Hadi tak karuan karena gadis itu sangat erat memeluknya. Hadi mencoba bertanya
dimana alamat gadis itu. namun gadis itu sudah tidur pulas. Terpaksa Hadi
membawa pulang kerumahnya.
Sesampainya
di rumah, ibunya kaget melihat anaknya pulang membawa seorang gadis, mulutnya
bau alkohol. “Hadi, siapa dia ?? ada apa denganmu, mengapa pulang dengan gadis
seperti ini ??” Tanya ibu Hadi keheranan.
“bu,
maaf nanti saya jelaskan, biar saya antar dia ke kamar. Biar saya tidur diruang
tamu.” Jawab Hadi sambil membopong gadis itu. Ibu Hadi hanya geleng-geleng
kepala dan mengingatkan Hadi untuk menceritakan yang terjadi, ibunya menunggu Hadi
di ruang tamu.
******
Di
ruang tamu ibunya sudah menunggu, di meja sudah tersedia teh hangat. Hadi duduk
di kursi yang berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh ibunya.
“bu,
apa Hadi harus mulai ceritanya sekarang ??” Hadi meminum teh hangat yang
dihidangkan oleh ibunya.
“tentu
nak, gadis itu siapa ?? dia itu seperti gadis nakal.”
“begini
bu, tadi pas saya pulang, saya dicegat oleh gadis itu. dia minta tolong
dianterin pulang, dan gadis itu memang dalam keadaan mabuk.” Jelas Hadi.
“lalu
kenapa kamu membawanya kemari nak ??” ibunya ingin tahu secara ditel.
“ia,
awalnya saya mau mengantarkan dia kerumahnya, tapi gadis itu tidak sempat
memberitahukan alamatnya ke saya, dia keburu tidur. Akhirnya saya bawa dia
kesini. Niat saya Cuma menolong kok bu. Besok saya akan mengantar dia pulang.” Hadi
menjelaskan secara rinci.
“ya
sudah, ibu paham sekarang. kamu istirahat gih, ini sudah larut malam. Maaf ibu
mengganggu waktu istirahatmu.”
“ah
tidak bu, justru saya berterimakasih ibu tlah memberikan kesempatan pada saya
untuk menjelaskan hal yang sebenarnya.”
Ibu Hadi
hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Hadi.
******
Cahaya
mentari dari jendela yang tirainya disibakkan oleh ibu Hadi membangunkan Sivia yang
tidur nyenyak, dia bangun jam 7 pagi. Sivia kebingungan mengapa dia berada
disini.
“eh
bu, aku kok bisa ada disini ??” Tanya Sivia tanpa sopan santun.
“eh
gadis nakal, kalo bicara sama orangtua itu yang sopan. apa kamu tidak diajari
sopan santun oleh ibumu ??” ibu Hadi kesal oleh tutur kata Sivia.
“maaf
bu, saya bukan gadis baik jadi buat apa saya harus bicara sopan. Satu lagi bu,
ini bukan kesalahan ibu saya, jadi jangan bawa-bawa nama ibu saya.”
“ya
bagus, kalo kamu masih menghargai ibumu, cepatlah mandi lalu turun kebawah
untuk sarapan, setelah itu anak saya akan mengantar kamu pulang. Pakaian ganti
untuk kamu ada di lemari pojok sana.” Ibu Hadi berlalu meninggalkan Sivia. Sivia
heran, mengapa ibu ini tidak marah padanya, tapi malah perhatian dan perduli
padanya. Sivia tidak banyak berfikir, dia menuju kamar mandi. Setelah selesai
mandi dan berganti pakain Sivia ke lantai bawah untuk sarapan seperti perintah
ibunya Hadi. Di meja sudah tersedia nasi goreng, buah-buahan beserta segelas
susu.
“ayo
duduk, sarapan dulu. Tapi,, kamu harus sarapan sendirian, ibu dan Hadi sudah
duluan sarapan.” Ibu Hadi membuyarkan rasa heran dihati Sivia.
“ba..baik
bu,” Sivia jadi kikuk.
“lho..
itu kan bukan baju yang ibu sediakan, itu pakaian siapa ??” ibu Hadi heran
melihat Sivia menggunakan busana bukan yang disediakan olehnya.
“ini
pakaian saya bu.”
“oh..
ya sudah silahkan sarapanya ntar keburu dingin, ibu menemui Hadi dulu di taman
belakang.” Ibu Hadi berlalu dengan rasa heran, mengapa gadis itu sekarang
penampilannya sangat muslimah. Sivia yang sudah kelaparan langsung melahap nasi
goreng yang telah disediakan.
Ditaman
belakang ibu Hadi menceritakan keanehan yang terjadi pada Sivia.
******
Sivia
membereskan meja makan dan mencuci piring kotor yang ada di dapur, kemudian ia
kembali duduk di meja makan. Hadi dan ibunya menghampiri Sivia. Benar saja
seperti yang diceritakan ibunya, Hadi heran dengan penampilan Sivia sekarang.
Semalam ia berpenampilan sangat liar, tapi sekarang begitu anggun dan muslimah
dibalik balutan gamis dengan kerudung berwarna biru muda.
“emh..
sudah selesai sarapannya ??” tegur hardi.
“su..sudah,
terimakasih atas hidangannya” Sivia kaget dengan kedatangan Hadi dan ibunya yang
secara tiba-tiba.
“kamu
mau pulang sekarang ?? ibu takut keluargamu hawatir.” Ibu Hadi mengingatkan.
“ia
bu, saya mau pulang terimakasih untuk semuanya, maafkan atas tingkah laku saya
tadi terhadap ibu, juga saya minta maaf sudah merepotkan mas sama ibu.”
“tidak
kok nak, ya sudah kamu pulang di antar Hadi. Ibu harus mengajar di sekolah.”
“hati-hati
ya bu, maaf Hadi tidak bisa mengantar ibu.”
“ia
nak, assalamu’alaikum..” ibu Hadi pamit.
“wa’alaikumsalam..”
jawab Hadi dan Sivia bersamaan.
“perkenalkan
nama saya Hadi.” Hadi mengulurkan tangannya.
“Sivia.”
Sivia membalas uluran tangan Hadi.
“maafkan
saya tlah lancang membawamu ke rumah saya, habis saya bingung alamat kamu
dimana, kamu keburu tidur.” Hadi menjelaskan, dia takut Sivia salah paham.
“enggak
kok mas, justru saya yang harus minta maaf. Saya telah kurang ajar dan
lancang pada mas.” Sivia menunduk.
“tidak
juga. Mari kita berangkat sekarang. Tapi sebutin dulu alamat kamu dimana ??” Hadi
tersenyum.
“jln.
Anggrek no 12 mas.”
Hadi
dan Sivia bergegas menuju alamat tersebut.
******
Hadi
dan Sivia tlah sampai disebuah rumah mungil namun tampak bersih terawat,
seorang gadis kecil berusia 6 tahun menghampiri mereka.
“kak Sivia
sudah pulang.. semalam kenapa gak pulang kak ??” anak itu memeluk Sivia.
“ia
sayang, maafin kakak. Tadi malam ada hal yang harus kakak selesaikan. Dea
kenalin ini mas Hadi temen kakak”
Dea
berkenalan dengan Hadi.
“mas Hadi
pacar kak Sivia ya??” goda dea.
“wuss..
dea ini apa-apaan..” Sivia tersipu malu.
Hadi
hanya tersenyum mendengar ocehan dea.
Kemudian
seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, beliau adalah ibu Sivia. Hadi dan
Sivia segera menyalaminya.
“via,
ada tamu kok gak di ajak masuk ??” Tegur ibunya.
“trimaksih
bu, tapi saya buru-buru, saya harus segera mengajar. Anak-anak sudah menunggu
di madrasah.” Hadi pamitan kepada ibu Sivia, sekeluarga.
******
Seminggu
berlalu sejak pertemuannya dengan Sivia, Hadi belum bertemu lagi dengannya. Hadi
penasaran dengan gadis itu mengapa dia bisa bertingkah aneh, yang semula
penampilannya liar menjadi bersahaja. Hadi menepis lamunannya ‘kenapa aku terus
mengingatnya ??’ Hadi bergumam.
Hadi
menghidupkan mesin motornya, dia ingin cepat sampai ke rumahnya.
Diperjalanan
Hadi kehujanan, dia berteduh di sebuah gedung SD, di sudut kelas Hadi melihat
anak perempuan, Hadi merasa sudah mengenal anak itu, kemudian Hadi mencoba
mengingatnya. Hadi ingat, anak itu dea adiknya Sivia.
“dea, kok belum pulang ?? nunggu siapa ??” Hadi
menghampiri anak itu.
dea
kaget dengan kehadiran Hadi yang tiba-tiba. “kak Hadi..!! dea memang lagi
nunggu kak”
“dea
nungguin siapa ??”
“dea
nunggu.. nunggu hujannya berhenti kak, dea kan biasa pulang sendiri gak pernah
di jemput.”
“ha..ha..
dea bisa aja, mau kakak antar pulangnya ??”
“emh..
jika kakak tidak keberatan, boleh deh”
“nah..
ujannya udah berhenti jadi gak ada yang perlu di tunggu, yuk kita pulang..!!”
“let’s
go..!!”
Hadi
merasa gemas dengan tingkah lucu dea.
******
“nak Hadi
gak makan dulu ??” kata ibunya Sivia.
“ia
kak, nanti kelaperan lho.. cacing di perut kakak pada nangis deh” oceh dea.
“dea
ngocehnya pinter banget.. kakak jadi gemes”. Memangku dea.
“siapa
dulu donk, dea gitu..”
Hadi
dan ibu Sivia tertawa melihat tingkah lucu dea.
“oh ya
bu, Sivianya ada ??” Tanya Hadi.
“ciee
kangen ya..??” dea ngoceh lagi.
“wuss
dea, gak boleh gitu.., Sivia sedang bersiap-siap berangkat kerja, dia ada di
kamarnya”.
“maaf
bu, kalo boleh saya tahu dea kerja dimana ??” Hadi jadi tertarik ingin
menyelidiki Sivia.
“ibu
juga tidak tahu dimana tempat kerjanya, Cuma yang pasti dia bekerja di sebuah
bank syariah, ibu sebenarnya gak tega melihat dia bekerja, seharusnya dia sudah
kuliah smester lV, tapi karena waktu itu ibu terkena penyakit ginjal dan harus
di operasi dia berhenti kuliah dan mencari kerja. dan alhamdulilah dia mendapat
pekerjaan di bank syariah tersebut hingga ibu bisa operasi tanpa harus meminjam
uang”.
Ibu Sivia
bercerita panjang lebar, sementara dea pergi nonton tv karena merasa jenuh
dengan obrolan orang dewasa yang terlihat serius.
“kan
operasi ibu sudah selesai, kenapa Sivia tidak meneruskan kuliahnya lagi bu ??”
Tanya Hadi masih penasaran.
“pasca
operasi ibu harus sering cek up untuk mengontrol ginjal ibu, akhirnya Sivia
memutuskan untuk berhenti kuliah, dia memilih bekerja sampai ibu benar-benar
sembuh.”
Sivia
keluar dari kamarnya, dia memakai busana muslimah dengan dibalut kerudung merah
sangat anggun dengan wajahnya yang cantik, Hadi kagum dengan gadis dihadapanya
ia bertasbih dalam hati.
“bu, Sivia
berangkat kerja dulu.. ibu gak usah nunggu Sivia pulang, karena Sivia bawa
kunci cadangan.”
“ia,
nak.. tapi kamu jangan pulang terlalu larut malam, jaga kesehatanmu.” Nasehat
ibunya.
“baik
bu, mas Hadi ada disini ya?? Maaf baru sempet nyapa.” Sivia tersenyum.
“i..ia,
tadi kebetulan ketemu dea, lalu aku antar pulang.” Hadi menjadi gugup.
“makasih
sudah mengantar dea pulang, Sivia berangkat ya bu. Assalamu’alaikum..” Sivia
pamit pada ibunya.
“emh..
Sivia kerja di bank mana??” Tanya Hadi.
“emh..
di.. di.. bank syariah sejahtera.” Sivia kaget dengan pertanyaan Hadi.
“kalo
begitu mari aku antar, kebetulan aku juga mau pamit pulang,, bank tersebut satu
arah dengan rumahku.” Hadi menawarkan jasanya.
“tidak
usah mas, aku gak mau ngerepotin.” Sivia menyesal kenapa harus bilang bank
tersebut.
“tidak
kok.. sekalian aku pulang gitu, biar ngirit ongkos.”
“ya
sudah via, gak baik nolak kebaikan orang.. maksud nak Hadi kan baik jadi apa
salahnya toh ??” ibu Sivia menyarankan.
Akhirnya
Sivia bersedia di antar oleh Hadi, ntah mengapa Hadi sangat bahagia, sedangkan Sivia
takut Hadi akan tahu jati dirinya.
******
Sesampainya
di bank yang dituju, Sivia tidak masuk ke bank tapi dia menyebrang lalu naik
taxi. Sivia tidak menyadari bahwa Hadi mengikutinya. Sivia masuk ke sebuah
rumah hiburan tempat berkumpulnya lelaki hidung belang, tapi dengan pakaian yang
bukan ia kenakan dari rumah, ia memakai pakaian yang sangat terbuka. Hadi beristigfar
dalam hatinya, ia tidak menyangka Sivia tlah mendustai keluarganya. Ntah
mengapa Hadi jadi ingin ke rumah tersebut. Di dalam nampak Sivia bersama
beberapa gadis duduk berjejer di kursi seperti kue yang sedang di jajakan,
siapa yang tertarik boleh membelinya.
Wanita
paruh baya menghampiri Hadi dan membuat Hadi kaget.
“emh..
aku perhatikan kamu terus memandangi Sivia, apa kamu berminat??”
Hadi
beristigfar dalam hati, dia menawarkan Sivia seperti barang dagangan.
“ia
aku ingin mengobrol dengannya.” Jawab Hadi.
“seriuskah
hanya mengobrol saja ?? jika bayarannya memuaskan saya izinkan, karena Sivia
itu banyak yang memesan”.
“berapa
aku harus membayar ??” Hadi ingin mengingatkan Sivia agar keluar dari jurang
hina ini.
“10 juta
untuk satu malam,” wanita paruh baya itu tersenyum sinis.
“tapi
aku tidak ada uang sebanyak itu.”
“ya
sudah, silahkan pilih yang lain saja.” Wanita itu meninggalkan Hadi.
seorang
laki-lakinusia 40 tahun menghampiri wanita itu, dia menunjuk Sivia. Tak lama
kemudian Sivia pergi bersama hidung belang tersebut. Hadi pulang dengan
penyesalan ‘Sivia disini kamu adalah primadona, tapi mengapa harus menjadi
primadona untuk hidung belang ?? kamu begitu bernilai disini, tapi kamu dalam
jurang hina Sivia’.
Hadi
bertekad untuk menyadarkan Sivia kembali pada jalan yang benar, dia akan
menemuinya di rumahnya.
******
Hadi
menjemput dea di sekolah, itu sebagai alasan Hadi untuk bisa bertemu dengan Sivia.
******
“terima
kasih sudah mengantar dea pulang.” Ibu Sivia menghampiri Hadi yang sedang duduk
di ruang tamu.
“sama-sama
bu, emh.. apa Sivianya ada ??”
“Sivia
lagi tidur. Dia bekerja sampai pagi. Jika ada hal yang perlu disampaikan, biar
ibu yang sampaikan”.
“tidak
ada kok bu, saya Cuma khawatir dia selalu gadang tiap malam untuk bekerja.” Hadi
tidak bermaksud mengucapkan kalimat tersebut.
“ia
nak, ibu juga sudah mengingatkan.. tapi, Sivia sulit di atur. Dia bilang mau
ngumpulin uang buat masa depan dea.” Ibu Sivia menarik napas panjang.
Hadi
hanya bicara dalam hati, andai ibunya Sivia tahu beliau pasti sangat syok.
Sivia
keluar dari kamarnya. Sivia memandang Hadi dengan pandangan sinis.
“siang
mas, sering banget ya berkunjung kesini..” Sivia tersenyum kecut.
“Sivia,
kamu kenapa bicara seperti itu..??” ibunya keheranan.
“emh..
via Cuma becanda kok bu, mas tadi nganterin dea lagi ya.. makasih lho”
“tidak
apa-apa kok” Hadi tahu Sivia tidak suka dia terus berkunjung ke rumahnya.
“ada
keperluan apa ya mas ??” Sivia menyelidik.
“begini,
ibu saya mengundang ibu, Sivia dan dea untuk makan malam di rumah.. ibu saya
akan sangat senang jika undangannya dipenuhi.”
“aku
senang dengan undangannya, tapi, maaf via gak bisa mas..” Sivia mulai ketus.
“via,
nanti malam kamu kan gak kerja.. apa salahnya kita bersilaturahmi..”
“jika
tidak bisa juga tidak apa-apa kok bu.” Hadi tak ingin mereka berdebat.
“via,
untuk malam ini ibu mohon sama kamu ya..” ibunya merajuk.
“baiklah
bu..” Sivia berlalu ke kamarnya, ia tak bisa menolak ibunya. Dari kamarnya ia
mendengar Hadi pamit pulang.
‘apa
sih maunya mas Hadi itu’ gumamnya.
******
Hadi
menunggu ibunya dengan gelisah, setelah ibunya tiba Hadi merasa lega. Ibunya
heran dengan tingkah Hadi.
“ada
apa nak ?? ibu melihat kegelisahan di wajahmu..?? ibunya menyelidik.
“saya
ingin ngobrol sama ibu.”
“ia,
ibu siap mendengarkan nak..”
“Hadi
ingin menyiapkan makan malam bu, Hadi mengundang keluarga Sivia makan malam di
rumah kita. Maafkan Hadi yang terpaksa berbohong mengatas namakan ibu, Hadi
minta maaf bu, Hadi terpaksa.” Hadi mencium tangan ibunya.
“kamu
pasti mempunya alasan kan, dan kamu selalu memikirkannya dengan matang.. ibu
memaafkanmu nak..” ibunya mengelus rambut Hadi.
“saya
memang memiliki alasan bu, saya ingin menolong Sivia.”
“memangnya
Sivia kenapa nak ??” ibunya penasaran.
“ibu
melihat keanehannya kan, ketika pertama kali Sivia ada disini, penampilannya,
ibu tentu masih ingat.”
“ia
nak, ibu juga penasaran.. apakah kamu menemukan jawabannya ??”
“ia
bu, Sivia membohongi ibu dan adiknya.. di rumahnya ia berpenampilan sangat
muslimah dan dia mengaku pada ibunya dia bekerja di bank, padahal dia bekerja
sebagai wanita penghibur..”
Ibunya
kaget mendengar penuturan Hadi.
“Sivia
melakukannya untuk biaya operasi ibunya, beliau terkena penyakit ginjal yang
mengharuskannya melakukan operasi, Sivia memilih berhenti kuliah dan bekerja
untuk mengobati ibunya.” Hadi menjelaskan karena terlihat kekecewaan di wajah
ibunya.
“malang
sekali anak itu..”
“Hadi
sengaja mengundangnya makam malam karena ini satu-satunya cara saya bisa ngobrol
dengan dia, saya ingin membawanya kembali pada jalan yang benar, saya ingin
menyelamatkan masa depannya bu.”
“maksudmu
nak ??”
“apakah
ibu meridhoi saya, jika saya melamar dan menikahi Sivia ??”
Ibunya
terperanjat
“apakah
ini yang menurutmu baik nak ??” ibunya mencoba meyakinkan.
“insyaallah
bu, Hadi mencintainya.. Hadi ingin menolongnya dari lembah dosa bu. Hadi tahu
hati nurani Sivia pasti tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut”
Ibunya
tersenyum..
“ibu
bangga padamu nak, semoga ini pilihan yang terbaik..”
“terima
kasih bu, terima kasih..” Hadi memeluk ibunya.
******
Jam
08:00 keluarga Sivia sampai di rumah Hadi, tuan rumah menyambut dengan ramah.
Mereka makan malam sambil bercengkrama, Sivia tidak banyak bicara ia hanya
menanggapi jika obrolannya menyangkut dirinya. Selesai makan malam ibunya Hadi
mengajak ibunya Sivia mengobrol di ruang tamu dia mengerti suasana hati Hadi,
dea menonton tv, Hadi mengajak Sivia ngobrol di taman belakang rumah.
“mas,
maksud dari semua ini tuh apa ??” Sivia ingin rasa penasarannya terjawab.
“aku
mau bicara sama kamu, dan pembicaraan ini sangat penting” jawab Hadi, matanya
memandang Sivia tajam.
Sivia
menunduk.
“jangan
pandang aku seperti itu, mas terus terang aja mau membicarakan apa ??”
“aku
mau kamu berhenti bekerja disana..”
“oh
hanya itu, tapi ini urusanku gak ada sangkut pautnya sama kamu mas.”
“tapi
pekerjaan itu tidak halal, dosa, kamu merusak masa depan kamu.”
“aku
butuh uang buat biaya hidup, kesehatan ibu, masa depan dea, aku gak mau dea
mengalami apa yang aku alami.”
“tapi,
itu cara yang salah.. kamu membohongi mereka, jika ibumu tahu dia pasti sangat
kecewa.”
“jika
mas tidak memberi tahu, beliau takkan tahu..”
“kebohongan
pasti akan terungkap Sivia..”
“aku
gak mau denger mas ngoceh lagi.. ini hidup aku..” Sivia beranjak dari tempat
duduknya, tapi Hadi mencegahnya.
“Sivia,
fikirkanlah masa depanmu, apa kamu tak mau menikah ??”
“masa
depan ?? meskipun aku berhenti, aku tetap menjadi wanita hina, semuanya takkan
pernah utuh seperti semula, menikah tidak pantas untuk wanita sepertiku,
laki-laki mana yang akan menerimaku..” Sivia menangis.
“aku
tahu hati nuranimu membenci pekerjaanmu, dan aku mau kamu berhenti, memulai
lembaran baru yang lebih baik.. izinkan aku menikahimu.”
“apa
mas ??” Sivia mencoba meyakinkan yang barusan ia dengar.
“aku
mau menikahimu.. aku ingin kamu memulai lembaran baru bersamaku.”
“kamu
tidak pantas bersanding dengan manusia kotor sepertiku, banyak wanita yang
lebih baik yang lebih pantas untukmu mas..”
“kamu
wanita baik-baik, jika kamu bertobat..”
“sebenarnya,
sejak aku mengenalmu aku suka sama kamu, aku berandai-andai menjadi istrimu.
Tapi, aku menyadari aku tak pantas untuk siapa pun.”
“kamu
pantas untukku, aku tulus mencintaimu..”
“terimakasih
mas, aku janji akan berubah.. aku akan bertobat.” Sivia menyalami tangan Hadi.
Keduanya
menuju ruang tamu, Hadi melamar Sivia dan meminta restu dari orangtuanya. Sivia
berterus terang dihadapan kedua orangtua tersebut mengenai pekerjaannya selama
ini, ibunya syok mendengarnya namun ia dapat menguasai diri. Sivia berlutut
dihadapannya meminta maaf karena tlah membohongi ibunya, ibunya memaafkan.
Dua
minggu kemudian mereka mengadakan resepsi pernikahan. Sivia tlah membuka
lembaran baru yang lebih baik dengan suami yang sholeh.
SELESAI
Cerita
ini fiktif belaka, terimakasih sudah membaca.
Mohon
maaf atas kesalahan dan kekurangannya.
2014/3/31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan.
terimakasih.