Rabu, 02 April 2014

cerpen


KAMU, BUKAN WANITA HINA
Malam itu Hadi pulang dari mengisi ceramah di acara tabligh akbar disalah satu kelurahan, tepat di jalanan yang sepi dimana kendaraan sudah tidak lagi berlalulalang, karena memang malam sudah sangat larut, jarum jam tangan Hadi menunjukan angka 00:48. Hadi mengerem motornya tiba-tiba, karena didepannya ada sosok perempuan yang berjalan dengan terseret-seret. Mungkin dia sedang dalam pengaruh alkohol. Penampilannya sangat tidak layak, rambut acak-acakan, pakaiannya sangat terbuka. Gadis itu berdiri ditengah jalan, dia mencegat Hadi. dia minta tolong ingin di antar pulang.
“hei, tolong anterin aku donk.. sialan nie om budi nurunin aku disini.” Kata gadis itu sempoyongan.
“asstagfirullohaladzim..” Hadi mengelus dada.
“oh kamu ustad ya, gak peduli lah pokoknya anterin aku, ustad kan suka ceramah, hidup tuh harus tolong menolong. Makannya buktikan ceramah kamu itu, jangan Cuma ngomong doank”. Gayanya seperti seorang pendakwah. Hadi hanya beristigfar dalam hati. “ya sudah, ayo naik”.
Perasaan Hadi tak karuan karena gadis itu sangat erat memeluknya. Hadi mencoba bertanya dimana alamat gadis itu. namun gadis itu sudah tidur pulas. Terpaksa Hadi membawa pulang kerumahnya.
Sesampainya di rumah, ibunya kaget melihat anaknya pulang membawa seorang gadis, mulutnya bau alkohol. “Hadi, siapa dia ?? ada apa denganmu, mengapa pulang dengan gadis seperti ini ??” Tanya ibu Hadi keheranan.
“bu, maaf nanti saya jelaskan, biar saya antar dia ke kamar. Biar saya tidur diruang tamu.” Jawab Hadi sambil membopong gadis itu. Ibu Hadi hanya geleng-geleng kepala dan mengingatkan Hadi untuk menceritakan yang terjadi, ibunya menunggu Hadi di ruang tamu.
                                                                        ******
Di ruang tamu ibunya sudah menunggu, di meja sudah tersedia teh hangat. Hadi duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh ibunya.
“bu, apa Hadi harus mulai ceritanya sekarang ??” Hadi meminum teh hangat yang dihidangkan oleh ibunya.
“tentu nak, gadis itu siapa ?? dia itu seperti gadis nakal.”
“begini bu, tadi pas saya pulang, saya dicegat oleh gadis itu. dia minta tolong dianterin pulang, dan gadis itu memang dalam keadaan mabuk.” Jelas Hadi.
“lalu kenapa kamu membawanya kemari nak ??” ibunya ingin tahu secara ditel.
“ia, awalnya saya mau mengantarkan dia kerumahnya, tapi gadis itu tidak sempat memberitahukan alamatnya ke saya, dia keburu tidur. Akhirnya saya bawa dia kesini. Niat saya Cuma menolong kok bu. Besok saya akan mengantar dia pulang.” Hadi menjelaskan secara rinci.
“ya sudah, ibu paham sekarang. kamu istirahat gih, ini sudah larut malam. Maaf ibu mengganggu waktu istirahatmu.”
“ah tidak bu, justru saya berterimakasih ibu tlah memberikan kesempatan pada saya untuk menjelaskan hal yang sebenarnya.”
Ibu Hadi hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Hadi.
                                                                        ******

Cahaya mentari dari jendela yang tirainya disibakkan oleh ibu Hadi membangunkan Sivia yang tidur nyenyak, dia bangun jam 7 pagi. Sivia kebingungan mengapa dia berada disini.
“eh bu, aku kok bisa ada disini ??” Tanya Sivia tanpa sopan santun.
“eh gadis nakal, kalo bicara sama orangtua itu yang sopan. apa kamu tidak diajari sopan santun oleh ibumu ??” ibu Hadi kesal oleh tutur kata Sivia.
“maaf bu, saya bukan gadis baik jadi buat apa saya harus bicara sopan. Satu lagi bu, ini bukan kesalahan ibu saya, jadi jangan bawa-bawa nama ibu saya.”
“ya bagus, kalo kamu masih menghargai ibumu, cepatlah mandi lalu turun kebawah untuk sarapan, setelah itu anak saya akan mengantar kamu pulang. Pakaian ganti untuk kamu ada di lemari pojok sana.” Ibu Hadi berlalu meninggalkan Sivia. Sivia heran, mengapa ibu ini tidak marah padanya, tapi malah perhatian dan perduli padanya. Sivia tidak banyak berfikir, dia menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakain Sivia ke lantai bawah untuk sarapan seperti perintah ibunya Hadi. Di meja sudah tersedia nasi goreng, buah-buahan beserta segelas susu.
“ayo duduk, sarapan dulu. Tapi,, kamu harus sarapan sendirian, ibu dan Hadi sudah duluan sarapan.” Ibu Hadi membuyarkan rasa heran dihati Sivia.
“ba..baik bu,” Sivia jadi kikuk.
“lho.. itu kan bukan baju yang ibu sediakan, itu pakaian siapa ??” ibu Hadi heran melihat Sivia menggunakan busana bukan yang disediakan olehnya.
“ini pakaian saya bu.”
“oh.. ya sudah silahkan sarapanya ntar keburu dingin, ibu menemui Hadi dulu di taman belakang.” Ibu Hadi berlalu dengan rasa heran, mengapa gadis itu sekarang penampilannya sangat muslimah. Sivia yang sudah kelaparan langsung melahap nasi goreng yang telah disediakan.
Ditaman belakang ibu Hadi menceritakan keanehan yang terjadi pada Sivia.
                                                                        ******
Sivia membereskan meja makan dan mencuci piring kotor yang ada di dapur, kemudian ia kembali duduk di meja makan. Hadi dan ibunya menghampiri Sivia. Benar saja seperti yang diceritakan ibunya, Hadi heran dengan penampilan Sivia sekarang. Semalam ia berpenampilan sangat liar, tapi sekarang begitu anggun dan muslimah dibalik balutan gamis dengan kerudung berwarna biru muda.
“emh.. sudah selesai sarapannya ??” tegur hardi.
“su..sudah, terimakasih atas hidangannya” Sivia kaget dengan kedatangan Hadi dan ibunya yang secara tiba-tiba.
“kamu mau pulang sekarang ?? ibu takut keluargamu hawatir.” Ibu Hadi mengingatkan.
“ia bu, saya mau pulang terimakasih untuk semuanya, maafkan atas tingkah laku saya tadi terhadap ibu, juga saya minta maaf sudah merepotkan mas sama ibu.”
“tidak kok nak, ya sudah kamu pulang di antar Hadi. Ibu harus mengajar di sekolah.”
“hati-hati ya bu, maaf Hadi tidak bisa mengantar ibu.”
“ia nak, assalamu’alaikum..” ibu Hadi pamit.
“wa’alaikumsalam..” jawab Hadi dan Sivia bersamaan.
“perkenalkan nama saya Hadi.” Hadi mengulurkan tangannya.
“Sivia.” Sivia membalas uluran tangan Hadi.
“maafkan saya tlah lancang membawamu ke rumah saya, habis saya bingung alamat kamu dimana, kamu keburu tidur.” Hadi menjelaskan, dia takut Sivia salah paham.
“enggak kok mas, justru saya yang harus minta maaf. Saya telah kurang ajar dan lancang  pada mas.” Sivia menunduk.
“tidak juga. Mari kita berangkat sekarang. Tapi sebutin dulu alamat kamu dimana ??” Hadi tersenyum.
“jln. Anggrek no 12 mas.”
Hadi dan Sivia bergegas menuju alamat tersebut.
                                                                        ******
Hadi dan Sivia tlah sampai disebuah rumah mungil namun tampak bersih terawat, seorang gadis kecil berusia 6 tahun menghampiri mereka.
“kak Sivia sudah pulang.. semalam kenapa gak pulang kak ??” anak itu memeluk Sivia.
“ia sayang, maafin kakak. Tadi malam ada hal yang harus kakak selesaikan. Dea kenalin ini mas Hadi temen kakak”
Dea berkenalan dengan Hadi.
“mas Hadi pacar kak Sivia ya??” goda dea.
“wuss.. dea ini apa-apaan..” Sivia tersipu malu.
Hadi hanya tersenyum mendengar ocehan dea.
Kemudian seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, beliau adalah ibu Sivia. Hadi dan Sivia segera menyalaminya.
“via, ada tamu kok gak di ajak masuk ??” Tegur ibunya.
“trimaksih bu, tapi saya buru-buru, saya harus segera mengajar. Anak-anak sudah menunggu di madrasah.” Hadi pamitan kepada ibu Sivia, sekeluarga.
                                                                        ******
Seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Sivia, Hadi belum bertemu lagi dengannya. Hadi penasaran dengan gadis itu mengapa dia bisa bertingkah aneh, yang semula penampilannya liar menjadi bersahaja. Hadi menepis lamunannya ‘kenapa aku terus mengingatnya ??’ Hadi bergumam.
Hadi menghidupkan mesin motornya, dia ingin cepat sampai ke rumahnya.
Diperjalanan Hadi kehujanan, dia berteduh di sebuah gedung SD, di sudut kelas Hadi melihat anak perempuan, Hadi merasa sudah mengenal anak itu, kemudian Hadi mencoba mengingatnya. Hadi ingat, anak itu dea adiknya Sivia.
 “dea, kok belum pulang ?? nunggu siapa ??” Hadi menghampiri anak itu.
dea kaget dengan kehadiran Hadi yang tiba-tiba. “kak Hadi..!! dea memang lagi nunggu kak”
“dea nungguin siapa ??”
“dea nunggu.. nunggu hujannya berhenti kak, dea kan biasa pulang sendiri gak pernah di jemput.”
“ha..ha.. dea bisa aja, mau kakak antar pulangnya ??”
“emh.. jika kakak tidak keberatan, boleh deh”
“nah.. ujannya udah berhenti jadi gak ada yang perlu di tunggu, yuk kita pulang..!!”
“let’s go..!!”
Hadi merasa gemas dengan tingkah lucu dea.
                                                                        ******
“nak Hadi gak makan dulu ??” kata ibunya Sivia.
“ia kak, nanti kelaperan lho.. cacing di perut kakak pada nangis deh” oceh dea.
“dea ngocehnya pinter banget.. kakak jadi gemes”. Memangku dea.
“siapa dulu donk, dea gitu..”
Hadi dan ibu Sivia tertawa melihat tingkah lucu dea.
“oh ya bu, Sivianya ada ??” Tanya Hadi.
“ciee kangen ya..??” dea ngoceh lagi.
“wuss dea, gak boleh gitu.., Sivia sedang bersiap-siap berangkat kerja, dia ada di kamarnya”.
“maaf bu, kalo boleh saya tahu dea kerja dimana ??” Hadi jadi tertarik ingin menyelidiki Sivia.
“ibu juga tidak tahu dimana tempat kerjanya, Cuma yang pasti dia bekerja di sebuah bank syariah, ibu sebenarnya gak tega melihat dia bekerja, seharusnya dia sudah kuliah smester lV, tapi karena waktu itu ibu terkena penyakit ginjal dan harus di operasi dia berhenti kuliah dan mencari kerja. dan alhamdulilah dia mendapat pekerjaan di bank syariah tersebut hingga ibu bisa operasi tanpa harus meminjam uang”.
Ibu Sivia bercerita panjang lebar, sementara dea pergi nonton tv karena merasa jenuh dengan obrolan orang dewasa yang terlihat serius.
“kan operasi ibu sudah selesai, kenapa Sivia tidak meneruskan kuliahnya lagi bu ??” Tanya Hadi masih penasaran.
“pasca operasi ibu harus sering cek up untuk mengontrol ginjal ibu, akhirnya Sivia memutuskan untuk berhenti kuliah, dia memilih bekerja sampai ibu benar-benar sembuh.”
Sivia keluar dari kamarnya, dia memakai busana muslimah dengan dibalut kerudung merah sangat anggun dengan wajahnya yang cantik, Hadi kagum dengan gadis dihadapanya ia bertasbih dalam hati.
“bu, Sivia berangkat kerja dulu.. ibu gak usah nunggu Sivia pulang, karena Sivia bawa kunci cadangan.”
“ia, nak.. tapi kamu jangan pulang terlalu larut malam, jaga kesehatanmu.” Nasehat ibunya.
“baik bu, mas Hadi ada disini ya?? Maaf baru sempet nyapa.” Sivia tersenyum.
“i..ia, tadi kebetulan ketemu dea, lalu aku antar pulang.” Hadi menjadi gugup.
“makasih sudah mengantar dea pulang, Sivia berangkat ya bu. Assalamu’alaikum..” Sivia pamit pada ibunya.
“emh.. Sivia kerja di bank mana??” Tanya Hadi.
“emh.. di.. di.. bank syariah sejahtera.” Sivia kaget dengan pertanyaan Hadi.
“kalo begitu mari aku antar, kebetulan aku juga mau pamit pulang,, bank tersebut satu arah dengan rumahku.” Hadi menawarkan jasanya.
“tidak usah mas, aku gak mau ngerepotin.” Sivia menyesal kenapa harus bilang bank tersebut.
“tidak kok.. sekalian aku pulang gitu, biar ngirit ongkos.”
“ya sudah via, gak baik nolak kebaikan orang.. maksud nak Hadi kan baik jadi apa salahnya toh ??” ibu Sivia menyarankan.
Akhirnya Sivia bersedia di antar oleh Hadi, ntah mengapa Hadi sangat bahagia, sedangkan Sivia takut Hadi akan tahu jati dirinya.
                                                                        ******

Sesampainya di bank yang dituju, Sivia tidak masuk ke bank tapi dia menyebrang lalu naik taxi. Sivia tidak menyadari bahwa Hadi mengikutinya. Sivia masuk ke sebuah rumah hiburan tempat berkumpulnya lelaki hidung belang, tapi dengan pakaian yang bukan ia kenakan dari rumah, ia memakai pakaian yang sangat terbuka. Hadi beristigfar dalam hatinya, ia tidak menyangka Sivia tlah mendustai keluarganya. Ntah mengapa Hadi jadi ingin ke rumah tersebut. Di dalam nampak Sivia bersama beberapa gadis duduk berjejer di kursi seperti kue yang sedang di jajakan, siapa yang tertarik boleh membelinya.
Wanita paruh baya menghampiri Hadi dan membuat Hadi kaget.
“emh.. aku perhatikan kamu terus memandangi Sivia, apa kamu berminat??”
Hadi beristigfar dalam hati, dia menawarkan Sivia seperti barang dagangan.
“ia aku ingin mengobrol dengannya.” Jawab Hadi.
“seriuskah hanya mengobrol saja ?? jika bayarannya memuaskan saya izinkan, karena Sivia itu banyak yang memesan”.
“berapa aku harus membayar ??” Hadi ingin mengingatkan Sivia agar keluar dari jurang hina ini.
“10 juta untuk satu malam,” wanita paruh baya itu tersenyum sinis.
“tapi aku tidak ada uang sebanyak itu.”
“ya sudah, silahkan pilih yang lain saja.” Wanita itu meninggalkan Hadi.
seorang laki-lakinusia 40 tahun menghampiri wanita itu, dia menunjuk Sivia. Tak lama kemudian Sivia pergi bersama hidung belang tersebut. Hadi pulang dengan penyesalan ‘Sivia disini kamu adalah primadona, tapi mengapa harus menjadi primadona untuk hidung belang ?? kamu begitu bernilai disini, tapi kamu dalam jurang hina Sivia’.
Hadi bertekad untuk menyadarkan Sivia kembali pada jalan yang benar, dia akan menemuinya di rumahnya.
                                                                        ******
Hadi menjemput dea di sekolah, itu sebagai alasan Hadi untuk bisa bertemu dengan Sivia.
                                                                        ******
“terima kasih sudah mengantar dea pulang.” Ibu Sivia menghampiri Hadi yang sedang duduk di ruang tamu.
“sama-sama bu, emh.. apa Sivianya ada ??”
“Sivia lagi tidur. Dia bekerja sampai pagi. Jika ada hal yang perlu disampaikan, biar ibu yang sampaikan”.
“tidak ada kok bu, saya Cuma khawatir dia selalu gadang tiap malam untuk bekerja.” Hadi tidak bermaksud mengucapkan kalimat tersebut.
“ia nak, ibu juga sudah mengingatkan.. tapi, Sivia sulit di atur. Dia bilang mau ngumpulin uang buat masa depan dea.” Ibu Sivia menarik napas panjang.
Hadi hanya bicara dalam hati, andai ibunya Sivia tahu beliau pasti sangat syok.
Sivia keluar dari kamarnya. Sivia memandang Hadi dengan pandangan sinis.
“siang mas, sering banget ya berkunjung kesini..” Sivia tersenyum kecut.
“Sivia, kamu kenapa bicara seperti itu..??” ibunya keheranan.
“emh.. via Cuma becanda kok bu, mas tadi nganterin dea lagi ya.. makasih lho”
“tidak apa-apa kok” Hadi tahu Sivia tidak suka dia terus berkunjung ke rumahnya.
“ada keperluan apa ya mas ??” Sivia menyelidik.
“begini, ibu saya mengundang ibu, Sivia dan dea untuk makan malam di rumah.. ibu saya akan sangat senang jika undangannya dipenuhi.”
“aku senang dengan undangannya, tapi, maaf via gak bisa mas..” Sivia mulai ketus.
“via, nanti malam kamu kan gak kerja.. apa salahnya kita bersilaturahmi..”
“jika tidak bisa juga tidak apa-apa kok bu.” Hadi tak ingin mereka berdebat.
“via, untuk malam ini ibu mohon sama kamu ya..” ibunya merajuk.
“baiklah bu..” Sivia berlalu ke kamarnya, ia tak bisa menolak ibunya. Dari kamarnya ia mendengar Hadi pamit pulang.
‘apa sih maunya mas Hadi itu’ gumamnya.
                                                                        ******
Hadi menunggu ibunya dengan gelisah, setelah ibunya tiba Hadi merasa lega. Ibunya heran dengan tingkah Hadi.
“ada apa nak ?? ibu melihat kegelisahan di wajahmu..?? ibunya menyelidik.
“saya ingin ngobrol sama ibu.”
“ia, ibu siap mendengarkan nak..”
“Hadi ingin menyiapkan makan malam bu, Hadi mengundang keluarga Sivia makan malam di rumah kita. Maafkan Hadi yang terpaksa berbohong mengatas namakan ibu, Hadi minta maaf bu, Hadi terpaksa.” Hadi mencium tangan ibunya.
“kamu pasti mempunya alasan kan, dan kamu selalu memikirkannya dengan matang.. ibu memaafkanmu nak..” ibunya mengelus rambut Hadi.
“saya memang memiliki alasan bu, saya ingin menolong Sivia.”
“memangnya Sivia kenapa nak ??” ibunya penasaran.
“ibu melihat keanehannya kan, ketika pertama kali Sivia ada disini, penampilannya, ibu tentu masih ingat.”
“ia nak, ibu juga penasaran.. apakah kamu menemukan jawabannya ??”
“ia bu, Sivia membohongi ibu dan adiknya.. di rumahnya ia berpenampilan sangat muslimah dan dia mengaku pada ibunya dia bekerja di bank, padahal dia bekerja sebagai wanita penghibur..”
Ibunya kaget mendengar penuturan Hadi.
“Sivia melakukannya untuk biaya operasi ibunya, beliau terkena penyakit ginjal yang mengharuskannya melakukan operasi, Sivia memilih berhenti kuliah dan bekerja untuk mengobati ibunya.” Hadi menjelaskan karena terlihat kekecewaan di wajah ibunya.
“malang sekali anak itu..”
“Hadi sengaja mengundangnya makam malam karena ini satu-satunya cara saya bisa ngobrol dengan dia, saya ingin membawanya kembali pada jalan yang benar, saya ingin menyelamatkan masa depannya bu.”
“maksudmu nak ??”
“apakah ibu meridhoi saya, jika saya melamar dan menikahi Sivia ??”
Ibunya terperanjat
“apakah ini yang menurutmu baik nak ??” ibunya mencoba meyakinkan.
“insyaallah bu, Hadi mencintainya.. Hadi ingin menolongnya dari lembah dosa bu. Hadi tahu hati nurani Sivia pasti tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut”
Ibunya tersenyum..
“ibu bangga padamu nak, semoga ini pilihan yang terbaik..”
“terima kasih bu, terima kasih..” Hadi memeluk ibunya.
                                                                        ******
Jam 08:00 keluarga Sivia sampai di rumah Hadi, tuan rumah menyambut dengan ramah. Mereka makan malam sambil bercengkrama, Sivia tidak banyak bicara ia hanya menanggapi jika obrolannya menyangkut dirinya. Selesai makan malam ibunya Hadi mengajak ibunya Sivia mengobrol di ruang tamu dia mengerti suasana hati Hadi, dea menonton tv, Hadi mengajak Sivia ngobrol di taman belakang rumah.
“mas, maksud dari semua ini tuh apa ??” Sivia ingin rasa penasarannya terjawab.
“aku mau bicara sama kamu, dan pembicaraan ini sangat penting” jawab Hadi, matanya memandang Sivia tajam.
Sivia menunduk.
“jangan pandang aku seperti itu, mas terus terang aja mau membicarakan apa ??”
“aku mau kamu berhenti bekerja disana..”
“oh hanya itu, tapi ini urusanku gak ada sangkut pautnya sama kamu mas.”
“tapi pekerjaan itu tidak halal, dosa, kamu merusak masa depan kamu.”
“aku butuh uang buat biaya hidup, kesehatan ibu, masa depan dea, aku gak mau dea mengalami apa yang aku alami.”
“tapi, itu cara yang salah.. kamu membohongi mereka, jika ibumu tahu dia pasti sangat kecewa.”
“jika mas tidak memberi tahu, beliau takkan tahu..”
“kebohongan pasti akan terungkap Sivia..”
“aku gak mau denger mas ngoceh lagi.. ini hidup aku..” Sivia beranjak dari tempat duduknya, tapi Hadi mencegahnya.
“Sivia, fikirkanlah masa depanmu, apa kamu tak mau menikah ??”
“masa depan ?? meskipun aku berhenti, aku tetap menjadi wanita hina, semuanya takkan pernah utuh seperti semula, menikah tidak pantas untuk wanita sepertiku, laki-laki mana yang akan menerimaku..” Sivia menangis.
“aku tahu hati nuranimu membenci pekerjaanmu, dan aku mau kamu berhenti, memulai lembaran baru yang lebih baik.. izinkan aku menikahimu.”
“apa mas ??” Sivia mencoba meyakinkan yang barusan ia dengar.
“aku mau menikahimu.. aku ingin kamu memulai lembaran baru bersamaku.”
“kamu tidak pantas bersanding dengan manusia kotor sepertiku, banyak wanita yang lebih baik yang lebih pantas untukmu mas..”
“kamu wanita baik-baik, jika kamu bertobat..”
“sebenarnya, sejak aku mengenalmu aku suka sama kamu, aku berandai-andai menjadi istrimu. Tapi, aku menyadari aku tak pantas untuk siapa pun.”
“kamu pantas untukku, aku tulus mencintaimu..”
“terimakasih mas, aku janji akan berubah.. aku akan bertobat.” Sivia menyalami tangan Hadi.
Keduanya menuju ruang tamu, Hadi melamar Sivia dan meminta restu dari orangtuanya. Sivia berterus terang dihadapan kedua orangtua tersebut mengenai pekerjaannya selama ini, ibunya syok mendengarnya namun ia dapat menguasai diri. Sivia berlutut dihadapannya meminta maaf karena tlah membohongi ibunya, ibunya memaafkan.
Dua minggu kemudian mereka mengadakan resepsi pernikahan. Sivia tlah membuka lembaran baru yang lebih baik dengan suami yang sholeh.

                                                                        SELESAI

Cerita ini fiktif belaka, terimakasih sudah membaca.
Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangannya.
2014/3/31


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan.
terimakasih.